Jumat, 06 April 2012

Dibatas Waktu




Ini yang selalu aku takutkan, kehilangan seseorang yang paling berharga didalam hidupku. Aku benar-benar takut.  Sungguh aku sangat takut. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, hanya dia. Dia yang selalu menemaniku siang dan malam. Dia yang selalu mendengarkan apa yang tak bisa di dengar. Dia selalu menguatkan kala aku tak bisa kuat. Entah bagaimana diriku saat kehilangannya. Aku tak pernah kehilangannya. Dia selalu berada di sisiku, bahkan tidak lepas dari memori otakku. Aku takut. Aku takut menunggu waktu. Waktu yang dapat membatasi aku dengannya. Aku benar-benar takut.
Kau. Aku tak percaya kau, kau bukan tuhan! Bahkan hidupnya tak bisa ditakdirkan mu. Kau juga bukan utusan tuhan, kau tak akan pernah bisa mengambilnya dariku. Tak akan pernah bisa. Hatiku hancur bahkan akan lebih hancur saat aku kehilangannya. Dia terlalu kecil untuk merasakan ini, ini tak adil. Usianya baru 12 tahun, tetapi hidupnya terhitung berjalannya detik. Siapa kau? Coba katakan,apa yang harus aku lakukan? Apapun yang bisa aku lakukan, aku akan lakukan. Katakan apa yang harus aku lakukan!
Kala waktu melangkah detik demi detik, aku tak sanggup. Rasanya biarkan saja aku yang mengganti hidupnya, aku yang akan menggantikan sakitnya dan aku pula yang menunggu waktu. Aku bisa, aku yang akan gantikannya. Aku tak ingin dia merasakan ini. Hidup dalam batasan waktu, hidup dikepung oleh waktu dan hidup bertakdirkan waktu. Aku tak ingin kehilangannya, hanya dia yang aku punya. Aku tak sanggup melepasnya dalam hitungan waktu, aku tak akan pernah sanggup.
Ini saatnya. Saat waktu yang ditakdirkan olehnya. Aku ingin menjerit, tapi untuk apa? Aku ingin menangis, tapi untuk apa? Aku ingin marah, tapi untuk apa? Untuk apa? Untuk apa semua ini. Aku tak bisa menyentuhnya lagi, aku tak bisa disisinya lagi bahkan aku tak bisa menemaninya siang dan malam. Bahkan bayangannya pun tak bisa aku sentuh. Dia akan hilang. Hilang terbawa waktu. Apa yang harus aku lakukan? Kau. Beritahu aku apa yang harus aku perbuat. Akan ku tukar hidupku untuknya, apa itu bisa? Akan ku tukar hartaku untuknya, apa bisa? Akan ku tukar segala yang aku bisa untuknya, apa bisa? Apa bisa aku tukar? Aku tak butuh segalanya. Aku hanya butuh dia.
Aku tak ingin hidup dibatasi waktu. Waktu yang dapat memisahkan aku dengannya. Waktu inilah yang dapat menghapus dirinya. Apa harus aku tanyakan tuhan? Bisakah ia menukar waktuku dengannya atau ia perpanjang saja batas waktunya. Aku mohon tuhan. Aku tak suka dibatasi. Apalagi batasan antara aku dengannya. Antara bumi dan langit. Antara alam ku dan alamnya. Kau ambil saja semuanya, tapi jangan ambil dia. Aku mohon tuhan. Aku mohon padamu, kepada kau dan kepadanya.
Berbataaas waktu...

Pebruari 2012

Si Cantik Berbingkai “Coklat”





Si Cantik Berbingkai “Coklat”

Badanku rasanya membeku terdiam dan terpaku. Wanita itu tepat berada di depanku, tersenyum dan menyapa semua yang berada di sekelilingnya. Jantungku rasanya bisa saja copot dan berhenti berdetak, tetapi entah mengapa rasanya aku bahagia hanya melihatnya dalam beberapa detik. Itulah yang aku suka, dia cantik dan ramah. Dia tidak pernah sombong kepada siapapun, mungkin menurutnya apa yang bisa ia sombongkan? Toh dia manusia biasa, bukan malaikat cantik. Memang dia tak begitu cantik di bandingkan dengan teman-temannya yang cantik bah model majalah remaja, tapi tetap saja menurutku dia cantik. Senyumnya, matanya, gaya berpakaian, bentuk tubuhnya, kesederhanaannya, bahkan dia terlihat sangat cantik saat memakai jilbab coklat.
Memang setiap wanita yang turun ke bumi dan beragama islam telah di kodratkan memakai jilbab untuk menutupi auratnya. Tetapi wanita jaman sekarang tidak mungkin mau mengenakan jilbab karena akan menjutupi keindahannya. Aku suka wanita berjilbab. Sangat anggun dan menambah nilai kecantikannya. Akupun menyukainya saat ia mengenakan jilbab coklat. Entah mengapa, bukan karena warna itu kesukaanku tetapi dia terlihat sangat manis. Jilbabnya seperti bingkai yang sangat pas, indah dan mempercantik isinya. Bila dalam album foto terdapat bingkai yang indah maka itulah dia. Mungkin, tak pernah aku melihatnya bersedih, karena dia sangat periang atau mungkin dia bisa menyembunyikan perasaannya yang sedang terluka dengan senyumannya.
Dia seperti mahnet, yang kapan saja dapat menarik perasaanku menjadi lebih baik saat melihatnya. Saat berada di kampus pun, dialah penyemangat dalam menjalani rutinitasku. Ingin rasanya menyapanya kapanpun waktu berputar, tetapi saat melihatnya saja berada tepat di depanku rasanya aku ingin mati. Mungkin saat aku memutuskan nadikupun aku tak sadar, ini rasanya sangat berlebihan. Tetapi, bila tuhan menakdirkannya untukku, pasti aku akan menjaganya dengan baik. Bahkan sangat baik. Untuk membayangkannya saja aku sangat bahagia.

Ingin rasanya membuatkannya surat cinta atau apapun yang bisa membuatnya tau bahwa aku memang ada. Aku bukan bayangan yang memuja, tapi aku memang nyata. Apakah itu terlalu konyol? Rasa suka memang konyol bahkan tak bisa digambarkan dengan logika. Aku berusaha mendekatinya walau hanya melalui pesan singkat. Dengan cara itulah aku bisa sedikit lebih dekat dengannya. Tetapi tak jarang dia selalu lupa untuk membalas pesanku, apa saja yang ia lakukan tak bisakah membalas pesanku walau hanya  sebentar?perasaanku pun bertanya-tanya. Itu simple baginya, tetapi tak sesimple perasaanku menunggu balasannya.
Rasa itu hingga saat ini masih sama, sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya di Kampus. Pertama kali aku melihatnya dia sangat pucat, entah mengapa mungkin ia lelah mengikuti kegiatan yang menyita waktunya. Langit pun seakan mendung saat aku melihatnya murung. Ingin rasanya aku sekedar mendekat dan membantunya. Tetapi bagaimana bisa, saat ia berada di dekatku pasti aku sangat takut. Aku takut semua yang aku lakukan akan membuatnya tidak suka, pergi bahkan menjauh dari pandanganku. Aku benar-benar takut. Saat ini aku hanya dapat melihatnya dari jarak jauh, tetapi dia sangat dekat dihatiku. Apa mungkin tuhan menakdirkan aku hanya dapat memujanya? Aku tak tau. Yang aku tau, aku menyukainya. Aku hanya ingin selalu bersamanya dalam bentuk nyata. Aturlah tuhan, seperti apa yang aku inginkan.

Cerita ini berdasarkan kisah dari “Tea” salah satu mahasiswa DKV Unpas 2011

Ku Akui Aku Membencinya




          Aku membencinya ! selalu saja ia datang dalam segala hal. Aku sangat bosan, bahkan sangat lelah. Tak pernah aku harapkan ia hadir di setiap adaku, setiap tatapku dan setiap lamunku. Bahkan aku tak ingin ia hadir dan menghancurkan mimpiku. Ia kelam. Selalu saja hadir dalam segala hal ku. Aku benar-benar lelah.
          Permainan perasaan di mulai. Aku terlalu lemah. Selalu saja, aku tak mengusirnya dekati pikiranku. Atau mungkin aku yang mengundangnya datang. Aku tak suka, aku benci. Saat aku berada dalam semunya waktu, ia pun hadir membawa memori masa lalu. Ia jahat ! bahkan sangat jahat. Ia selalu berjalan di hariku, bahkan membuatku menyatukan remukan masa itu. Kuatnya memori membuat ku tak pernah bisa bertahan. Ketika aku tersadar aku hanya berada dalam lamunan dengannya. Ia pun hilang. Aku membencinya. Karena ia hanya hadir dalam semuku.
          Saat aku mencoba membuka hati. Ia datang di pikiranku. Membuka memori itu, lagi dan lagi. Aku selalu lemah. Sangat lemah. Tak pernah bisaku buka hati yang baru. Kuatnya cinta itu, takkan pernah melemahkanku. Sudah ku coba. Aku tak bisa berontak! Hanya aku katakan aku membencinya. Saat terdiam, hanya ia yang menggantikan pikiranku. Saat termengu, hanya ia yang menyapa hatiku. Dan saat aku bahagia, hanya ia yang membuatku baru. Aku bodoh. Menyusuri dirinya dalam lamunku. Bahkan ia abstrak. Atau mungkin ia nyata tapi ia tak pernah bisa kembali padaku. Ia tak pernah cintaiku. Ia tak pernah merindukanku. Dan ia tak pernah menungguku. Ingin ku teriak, aku membencinya.
          Ia EGOIS ! mengapa datang di pikiranku, tapi tidak untuknya. Aku yang selalu merasakannya. Ia tidak!!! Ia selalu menjadi bagian dari hidupku, partikel yang tak bisa lepas dari hatiku. Gambarannya selalu datang padaku. Seakan nyata tapi hanya lamunku. Diam ! aku lelah. Hampir 10 bulan lamanya aku lelah. Hampir satu tahun, aku lelah. Sangat lelah. Aku ingin bahagia. Mengapa tak biarkan aku bahagia. Aku tak bisa bertahan. Sungguh aku ingin melepaskannya. Mereka bilang ia tak sama sekali merindukanku. Bagaimana denganku? sudah ku coba. Aku tak bisa. Aku tak bisa melepaskannya. Aku membencinya. Karena ia membuatku luka. Bahkan sampai saat ini, aku tak pernah lupa luka ini takkan bisa mengering.
          Aku membencinya. Semua ! Aku benci matanya. Aku benci hidungnya. Aku benci mukanya. Aku benci sifatnya. Aku benci kelakuannya. Aku benci gerak geriknya. Aku benci dia. Bahkan aku benci segala hal yang menyangkutkan aku dengannya. Aku takkan bisa menemukan hal yang tak aku benci. Karena aku sungguh membencinya.
Aku membencinya! Aku sungguh membencinya! Aku benar-benar sangat membencinya! Berkali-kali aku katakan aku membencinya. Selalu sama yang aku katakan, aku membencinya. Benar-benar benci. Dan saat aku benar-benar membencinya, aku pun tau kuatnya benciku. Kuatnya benciku karena aku sangat mencintainya.
Aku memang sangat mencintainya...


15 Agustus 2011

Karena Cintaku pada-NYA

 


Usiaku kini tepat seperempat abad di alam dunia. Hari ini mungkin orang-orang akan bergembira dan mengucapkan beribu doa untuk kami. Kami? mungkin hanya aku. Ketika bulan lalu, seorang yang selalu menemaniku dalam suka maupun duka telah berlalu menuju-NYA. Hatiku saat itu benar-benar hancur. Ia meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tetapi dalam renungan malam ku bersimpuh pada-NYA, aku mencintai istriku karena allah dan aku melepaskannya pun karena cinta pada allah.
Aku bahagia, saat buah cinta kami berkumpul disini. Mereka melepas kerinduan bersamaku. Yang berada di dekat sofa itu anak sulung kami bernama Anika Islama. Saat ini ia berusia 26thn dan memberikan dua surga kecil yang cantik bernama Kimberly dan Killy. Pria yang sedang tertawa sambil mengaduk kopi itu anak kedua kami bernama Wildan Islam Fajar. Ia berumur 24thn dan mengambil S2 di Frankfruit, Jerman. Dan anak terakhir kami, yang sedang memelukku dari samping Fliska Islami. Ia sangat dekat denganku. Bahkan, mungkin saat ini ia merasa begitu sangat kehilangan sosok seorang ibu. Begitu juga denganku.
Tak ku pungkiri, aku sangat merasa kehilangannya. Begitu pula saat aku menatap mereka. Rasanya seperti menyesak dada secara perlahan. Tetapi, aku harus menyadari. Kala cintaku begitu dalam padanya, tuhanlah yang akan menggantikan cintaku yang sangat dalam padanya pula. Aku tak pernah menyesali telah bersamanya, karena kekuatan cintanya pada allah dan padakulah yang membuatku semakin mencintainya. Aku mencintai istriku.
Aku memanggil anak-anak dan cucu kami untuk berkumpul bersama di Ruang Tengah. Satu demi satu anak-anak kami memberikan aku hadiah. Sebenarnya aku tak butuh hadiah, hanya saja aku tak ingin mengecewakan mereka yang ingin membahagiakan aku. Saat aku membuka bingkisan berwarna merah dari anak kami, aku hanya terdiam. Mataku memandang dengan tajam. Lalu, air mata ini menetes, tak bisa ku bendung lagi. Air mata yang perlahan menderas dan menetes. Mereka memberikanku bingkai bermodel etnik djawa bersama foto saat kami menikah di dalamnya. Indah ...
Aku mengingatnya lagi.  Saat itu, ia berjalan di depanku. Wajahnya yang cantik, membuatku semakin tertarik. Saat itu, aku masih sangat muda. Baru menginjak 17thn. Dan aku masih tak mengerti apa arti cinta sesungguhnya. Hanya saja aku memberanikan diri menajaknya menikah. Ia hanya tersenyum, dan menyetujui lamaranku. Aku memang terelalu muda untuk menikah, tetapi perasaanku yang sangat matang membuat aku sanggup membuatnya bahagia. 27 Agustus 1987 aku menikahinya.
Ketika aku bercerita panjang tentang masa lalu, aku baru tersadar ternyata anak-anak ku hanya terpaku menatap. Aku pun merasa heran, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengingat istriku. Ini hari bahagiaku. Walaupun aku tak bahagia seperti dahuli, tetapi saat ini aku harus bahagia demi mereka. Anak ketigaku menghampiri lalu memelukku. Ia mengatakan, “ayah, aku mencintai ayah. Terimakasih telah membesarkanku. Dan bunda yang di surga, kami mencintaimu tanpa ada cela berkurang cinta kami. Terimakasih telah melahirkanku” sambil memelukku dengan sangat erat. Lalu, dengan perlahan anak-anak kami pun saling berpelukan. Inilah hadiah yang terindah yang diberikan allah pada kami. Karena cinta kepada allah, aku akan selalu menjaga mereka hingga allahlah yang akan mengambil mereka dan menggantikan cintaku pada mereka.
                   

Kala Prosa Berkedip



Raden Reigha Askha, itulah namaku. Seorang pria yang terjebak dalam ilmu kejiwaan selama 3 tahun karena saat ini aku diharuskan mempelajari hal itu. Sesungguhnya aku tidak terlalu suka dengan ini tetapi orangtuaku menyukainya. Mengapa aku tak menjadi musisi saja agar digandrumi para wanita atau menjadi fotografer yang selalu menuangkan kreasinya dalam bentuk yang nyata. Tetapi inilah jalan yang saat ini ku ambil, menjadi psikolog. Alhasil rasanya aku sedang membawa beban berat dipundaku, rasanya berat sekali. Terkadang aku hanya memikirkan rutinitas yang membebaniku, ini itu ini itu selalu begitu. Ketika ingin menyerah, aku selalu ingat mereka. Bahkan mereka tak pernah menyerah membesarkanku. Masih ingin menyerah?
Dalam setiap langkahku, tak pernah aku lupa mencatat. Ia tentu saja begitu, karena aku seorang spikolog. Semuanya ku catat. Tentang apa yang aku lihat dan apa yang aku rasakan. Aku bisa membaca sifat seseorang dari bagaimana mereka berucap, bersikap, berjalan bahkan hanya dari tatapan mata saja. Tetapi entah mengapa rasanya berbeda saat aku melihatnya. Itulah dia, wanita cantik berambut ikal yang selalu tersenyum manis dengan tatapan jernih dimatanya. Bahkan saat ia berkedip, rasanya aku tak ingin kehilangan kedipannya walau sedetik. Matanya yang indah membuatku terpaku. Sekali lagi aku hanya bisa memujanya. Untuk mendekatinya saja aku tak bisa, bagaimana bisa begitu? seorang ahli kejiwaan sepertiku tak bisa menaklukan jiwanya. Wanita itu sungguh ajaib.
Tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Padahal hari tepat jam 13.00 WIB dan sangat panas. Bagaimana lagi, aku pun harus menepi dibawah pohon besar dekat benner pemilihan walikota. Rasanya menjengkelkan sekali, bagaimana kalau benner itu terjatuh dan menimpaku, pasti rasanya sakit. Aku pun tertawa terbahak-bahak saat memikirkannya.  Saat aku melirik ke arah kanan, coba siapa yang aku lihat. Wanita itu lagi. Kami pun bertatapan dan saling tersenyum, bagaimana bisa seromantis seperti adegan film. Aku memberanikan diri menjulurkan tanganku walaupun saat itu rasanya sangat kaku. Ia hanya tersenyum dengan manis dan membalas jabat tanganku. Rasaya mataku kehilangan kontrol, terhipnotis secara sadar saat melihat matanya. Apalagi saat ia berkedip, mungkin nadiku terputus saja aku tak tahu. Namanya prosa, sungguh sangat indah bukan? Wanita itu membuatku gila, bahkan ahli jiwa dengan kadar gila tingkat atas. Ingin rasanya hujan tak berhenti secara cepat, tetapi bagaimana lagi hujan pun berlalu dan aku masih terdiam disini melihat langkah kakinya yang perlahan meninggalkanku.
Hari demi hari berjalan dengan indah. Awan-awanpun seakan berbaris menyambut pagi. Perasaanku pun seindah pagi ini. Saat melewati taman kota, selalu aku berhenti dan membuka jendela mobilku. Melirik ke sekeliling mencari wanita itu. Rasanya ia seperti tenaga ekstra di pagi hari. Saat aku menunggu sekitar setengah jam, dia pun datang. Benar saja, ia membuatku terpaku lagi. Hanya bisa tersenyum saat berpapasan dengannya, entah apa yang harus aku lakukan. Senyuman manisnya membuat pandanganku terkunci, bahkan saat ia berkedip. Ciptaan tuhan memang indah.
Hari ini tidak seperti biasanya. Tenagaku hilang. Sudah lebih dari satu minggu aku menunggunya. Berjalan di sekitar taman, duduk di rerumputan bahkan menunggu di bawah pohon besar itu. Yang aku pikirkan saat ini, berharap akan ada hujan ke dua, ke tiga, ke empat dan hujan kesekian yang membuat aku bisa menatap dirinya lagi. Aku melirik ke kanan, ke kiri, ke belakang, ke depan bahkan dengan tidak sadarnya aku berputar-putar seperti kehilangan arah. Dimana prosa?
Sebulan berlalu. Aku pun berkutik dengan judul skripsi yang sampai saat ini belum aku selesaikan. Aku memikirkan banyak hal yang saling bercabang. Alhasil isi skripsiku pun masih dalam bayangan yang gelap. Aku mencoba lebih fokus, lebih mendalami apa yang ingin aku jelaskan dalam isi skripsi. Kata demi kata pun terangkai dengan apiknya, lalu fokusku pun hilang. Berhenti tepat saat mengetik kata prosa, aku pun terdiam. Mengapa aku teringat prosa?
Apabila bisa di gambarkan bagaimana perasaan aku sekarang, rasaya tintapun tak bisa menggambarkannya. Seperti halnya anak ABG ini lah yang dikatakan galau. Aku memang galau. Mau apa lagi, saat ini perasaanku memang sangat kacau. Dia kenyataanku apa hanya khayalanku. Beritahu aku, siapa dia? Siapa yang selalu berada di pikiranku? Siapa yang selalu menyita pikiranku? Dan siapa yang selalu datang di otakku hanya dengan melihatnya? Siapa? Aku pun berjalan dengan tanda tanya besar. Sepertinya mungkin benar, prosa hanya ada dalam otakku, pikiranku, dan detikku. Tetapi dia tidak nyata, tidak senyata perasaanku padanya. Dia tidak nyata.
Ternyata memang aku yang salah. Semua yang aku pikirkan memang salah. Langkahku pun melaju dengan pasti melewati taman. Seperti terkena maknet yang selalu menarikku untuk berada tepat di tempat ini. Tempat pertama kali aku bertemu prosa dan aku sadar dia mengilang. Menghilang dari mataku tetapi tidak dari hatiku. Coba lihat, siapa yang berada tepat didepanku? Dia datang lagi. Aku pun mencoba fokus, ini nyata apa hanya halusinasiku karena begitu merindukannya? Sudah kuduga, memang dia nyata. Dia bukan khayalan, halusinasi bahkan mahluk yang sebenarnya tidak ada. Dia nyata, sekarang dia berada tepat dimataku. Tersenyum dan tetap memancarkan keindahannya. Tak akan pernah aku membuang kesempatan ini, kesempatan yang akan membuat aku selalu bersamanya. aku mencintainya, dan aku yakin Prosapun begitu.
Kala prosa berkedip, aku tak akan pernah hilang. Aku akan selalu ada dimatanya.